Hire
Writers
Editors
Home Tour About Read What's New Help Join Faith
Writers
Forum
My Account Login
Shop
Save
Support
Book
Store
Learn
About
Jesus
  

Get Our Daily Devotional             Win A Publishing Package             Detailed Navigation

The HOME for Christian writers! The Home for Christian Writers!



 
Short Stories PLEASE ENCOURAGE THE AUTHOR BY COMMENTING

  LEAVE COMMENT ON ARTICLE   SEND A PRIVATE MESSAGE
  HIRE THIS WRITER
REPORT ARTICLE

 TRACK THIS AUTHOR ADD TO MY FAVORITES
corner
What's New
 
corner
 
Melihat Dari Banyak Mata
by agustinus setyo nugroho
05/10/12
Free to Share
Author requests article critique


  Mail
 





Pernah suatu saat dulu, yakni saat saya masih di bangku kuliah, saya merasa shock dengan keadaan keuangan saya. Seperti biasa, sehabis dari kelas, sambil menunggu jam selanjutnya, saya gabung dengan teman-teman di lobi kampus. Sekedar ngobrol, atau hanya duduk mendengarkan ga jelas…hehehehe. Intinya just killing my time…. Ada yang cerita mau main kemana setelah jam kelas habis, ada yang planning malem mingguan, hingga berbagi soal peningnya kepala. Menarik saat obrolan beralih ke keluhan tentang uang saku. Saya yang sedari mula hanya menjadi pendengar setia, terhenyak saat ditanya berapa uang saku saya dalam sebulan….

Saya gelagapan saat itu. Sungguh, sebenarnya sebelumnya saya bukan orang yang introvert, termasuk dalam hal sensitive seperti itu. Tapi itu dulu, saat gerombolan main saya masih setipe (sama-sama senada berasal dari kampung….. hehehehe). Apalagi bagi cowok, sudah biasa untuk bilang bahwa sedang tongpes. Cuma saat itu saya memang tertegun. Bingung mau jawab apa…. Dan belum sempat saya jawab, beruntung ada yang celetuk, dia pusing banget karena uang sakunya tinggal sejuta. Waduhhh….. Uang segitu di tahun 1996 bagi saya sangatlah tidak sedikit, apalagi jika hanya untuk uang saku. Dengan uang segitu saya bisa hidup 6 bulan. Haaahhhhh…. Beruntung tadi saya belum sempat menjawab tentang jumlah uang saku saya. Saya pun tersenyum kecut alias asem banget….hehehhe. Ini mah namanya beda kelas! Dan entah mengapa, sejak kejadian itu saya terbelenggu rasa kurang nyaman bergaul dengan mereka. Seperti ada suatu dinding yang saya bangun sendiri. Yang jelas dinding ini membuat saya menjadi males untuk sekedar main, atau saat ada yang ngajak main band, bahkan saat naksir dan ditaksir…. Kata orang seh namanya terkena minder akut…. Jadi ga berkembang rasanya.

Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya setahun kemudian saya pindah kost. Syukurlah, di tempat baru ini banyak hal baru yang membuka mata saya. Saya menjadi kenal teman-teman baru dengan berbagai latar belakang, agama, adat, sifat, ekonomi, dan lain-lain. Mungkin karena tempat kuliahnya juga berbeda-beda ya, jadi ga senada. Yang jelas, minimal nyambung ngobrolnya.Di situlah saya beruntung punya teman baru dan saya berkesempatan main ke rumahnya. Sungguh, bukan bermaksud membandingkan. Tetapi saya seperti diingatkan kembali akan siapa saya sebenarnya. Biar pun rumahnya sangat sederhana, dan makanan sehari-hari seadanya (sering menu utamanya adalah makanan komplementer seperti singkong / jagung), tetapi suasananya jauh lebih mewah. Makan bersama keluarga temen saya itu terasa sangat nikmat. Ini menu saya saat kecil, tetapi suasananya belum pernah saya nikmati. Dan begitu harus kembali ke kota (Jogja) dengan berboncengan sepeda ontel, tidak lupa sekantong singkong pun kami bawa. Belakangan saya baru ngeh (sadar), ternyata singkong yang sering ditawarkan ke temen-temen kost itu terkadang adalah makan utama baginya selama kurang lebih 2 hari. Tidak bisa makan nasi, hanya singkong, tetapi masih tetap berbagi…. Saya pun tersenyum kecut kembali, seperti saat di lobi kampus setahun sebelumnya. Tetapi arti senyumnya berbeda…. Saya sedih dengan mental saya.

Betul kata orang, tidak boleh memandang selalu ke atas, atau pun selalu ke bawah. Ke atas terus bisa membuat kita merasa kecil, tak berdaya dan tidak bisa bersyukur. Sedang jika ke bawah terus bisa membawa kita ke kesombongan. Kedua-duanya bisa mengalihkan kita untuk berkembang, dan lupa akan diri kita sebenarnya, lupa akan apa yang terpenting sebetulnya bagi hidup kita. Bagaimana tidak lupa akan diri, jika mata kita hanya kita pakai untuk melihat orang lain. Dan saat melihat orang lain, biasanya akan dibarengi oleh suatu hasrat atau keinginan. Yang namanya hasrat / keinginan berarti sesuatu yang belum kita miliki, dan menuntut pemenuhan. Ini mungkin yang mengusik. Jika terpenuhi bisa tergoda dalam rasa sombong, jika tidak tercapai, timbul putus asa dan minder….. Semuanya membuat sesuatu yang jauh dan tidak kita miliki terlihat jelas, sedang apa yang kita miliki tidak terlihat.

Satu hal lagi yang membuat saya tersadar saat itu. Suatu sore teman saya tadi mengatakan bahwa saya beruntung sekali punya kakak dan adik yang sangat rukun dengan saya. Semuanya tampak sehat, berkecukupan di banding dengannya, dan dikaruniai sosok yang lumayan…. Duhhh, pokoknya banyak juga sanjungannya. Tetapi yang terasa, memang ada ketulusan dalam ucapannya. Di matanya, saya sangat diberkahi oleh Tuhan. Dan saya kembali terdiam…..

Yahh…. Dengan mata yang kita miliki, kita akan mudah tergelincir karena adanya hasrat dan keinginan diri dalam melihat kenyataan yang kita hadapi. Dengan sanjungan teman saya tadi, saya menjadi mengerti: Saya butuh mata orang lain untuk melihat kenyataan yang sedang terjadi. Sepasang mata memang baik, tetapi akan lebih lengkap sudut pandangnya jika memakai lebih banyak mata. Dan bukankah mata semua orang adalah ciptaanNya juga? Pasti ada andilnya untuk hidup saya mau pun orang lain. Saya yakin, ini yang sering kita lupakan. Kita jatuh dalam kekalutan, kebingungan, dan duka karena cenderung melihat hanya melalui mata (sudut pandang) kita yang rapuh ini, dan lupa mencoba menganalisis dan merenungkan dengan mata (sudut pandang) orang lain. Jika kita punya masalah dalam relasi misalnya, akan buntu jika hanya melihat dari satu sisi kita. Akan lain hasilnya jika kita coba melihat dari posisi orang yang punya masalah dengan kita. Menjadi lebih adil dan obyektif. Setelah itu, tinggal kita cocokkan melalui sudut pandangNya bukan? Apa maksud yang terkandung dalam segala hal yang kita alami…. Pasti ada tujuannya jika dilihat dari sudut pandangNya….. Amin


If you died today, are you absolutely certain that you would go to heaven? You can be! TRUST JESUS NOW

Read more articles by agustinus setyo nugroho or search for articles on the same topic or others.


Read More - Free Reprints, Main Site Articles, Most Read Articles or highly acclaimed Challenge Articles. Read Great New Release Christian Books for FREE in our Free Reads for Reviews Program. Christian writers can JOIN US at FaithWriters for Free. Grow as a Writer and help spread the Gospel.


The opinions expressed by authors do not necessarily reflect the opinion of FaithWriters.com.

Hire a Christian Writer, Christian Writer Wanted, Christian Writer Needed, Christian Content Needed
Find a Christian Editor, Hire a Christian Editor, Christian Editor, Find a Christian Writer
 
corner
Corner
This article has been read 300 times     < Previous | Next >


Member Comments
Member Date




TRUST JESUS TODAY









Free Audio Bible
500 Plus Languages
Faith Comes By Hearing.com